MJJ Islamic

Thursday, 7 September 2017

Fakta Mengejutkan : Ternyata Islam Masuk ke Nusantara Saat Nabi Muhammad Masih Hidup


Islamedia Islam masuk ke Nusantara dibawa para pedagang dari Gujarat, India, di abad ke 14 Masehi. Teori masuknya Islam ke Nusantara dari Gujarat ini disebut juga sebagai Teori Gujarat. Demikian menurut buku-buku sejarah yang sampai sekarang masih menjadi buku pegangan bagi para pelajar kita, dari tingkat sekolah dasar hingga lanjutan atas, bahkan di beberapa perguruan tinggi.

Namun, tahukah Anda bahwa Teori Gujarat ini berasal dari seorang orientalis asal Belanda yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk menghancurkan Islam? Orientalis ini bernama Snouck Hurgronje, yang demi mencapai tujuannya, ia mempelajari bahasa Arab dengan sangat giat, mengaku sebagai seorang Muslim, dan bahkan mengawini seorang Muslimah, anak seorang tokoh di zamannya.

Menurut sejumlah pakar sejarah dan juga arkeolog, jauh sebelum Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, telah terjadi kontak dagang antara para pedagang Cina, Nusantara, dan Arab. Jalur perdagangan selatan ini sudah ramai saat itu.

Mengutip buku Gerilya Salib di Serambi Makkah (Rizki Ridyasmara, Pustaka Alkautsar, 2006) yang banyak memaparkan bukti-bukti sejarah soal masuknya Islam di Nusantara, Peter Bellwood, Reader in Archaeology di Australia National University, telah melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara.

Bellwood menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima masehi, yang berarti Nabi Muhammad SAW belum lahir, beberapa jalur perdagangan utama telah berkembang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan Cina. Temuan beberapa tembikar Cina serta benda-benda perunggu dari zaman Dinasti Han dan zaman-zaman sesudahnya di selatan Sumatera dan di Jawa Timur membuktikan hal ini.

Dalam catatan kakinya Bellwood menulis, “Museum Nasional di Jakarta memiliki beberapa bejana keramik dari beberapa situs di Sumatera Utara. Selain itu, banyak barang perunggu Cina, yang beberapa di antaranya mungkin bertarikh akhir masa Dinasti Zhou (sebelum 221 SM), berada dalam koleksi pribadi di London. Benda-benda ini dilaporkan berasal dari kuburan di Lumajang, Jawa Timur, yang sudah sering dijarah…” Bellwood dengan ini hendak menyatakan bahwa sebelum tahun 221 SM, para pedagang pribumi diketahui telah melakukan hubungan dagang dengan para pedagang dari Cina.

Masih menurutnya, perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan antar sesama pedagang, tanpa ikut campurnya kerajaan, jika yang dimaksudkan kerajaan adalah pemerintahan dengan raja dan memiliki wilayah yang luas. Sebab kerajaan Budha Sriwijaya yang berpusat di selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607 Masehi (Wolters 1967; Hall 1967, 1985). Tapi bisa saja terjadi, “kerajaan-kerajaan kecil” yang tersebar di beberapa pesisir pantai sudah berdiri, walau yang terakhir ini tidak dijumpai catatannya.

Di Jawa, masa sebelum masehi juga tidak ada catatan tertulisnya. Pangeran Aji Saka sendiri baru “diketahui” memulai sistem penulisan huruf Jawi kuno berdasarkan pada tipologi huruf Hindustan pada masa antara 0 sampai 100 Masehi. Dalam periode ini di Kalimantan telah berdiri Kerajaan Hindu Kutai dan Kerajaan Langasuka di Kedah, Malaya. Tarumanegara di Jawa Barat baru berdiri tahun 400-an Masehi. Di Sumatera, agama Budha baru menyebar pada tahun 425 Masehi dan mencapai kejayaan pada masa Kerajaan Sriwijaya.

Temuan G. R Tibbets

Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara—terutama Sumatera dan Jawa—dengan Cina juga diakui oleh sejarahwan G. R. Tibbetts. Bahkan Tibbetts-lah orang yang dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara saat itu.

“Keadaan ini terjadi karena kepulauan Nusantara telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima Masehi, ” tulis Tibbets. Jadi peta perdagangan saat itu terutama di selatan adalah Arab-Nusantara-China.

Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya.

Di perkampungan-perkampungan ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan menikahi perempuan-perempuan lokal secara damai. Mereka sudah beranak–pinak di sana. Dari perkampungan-perkampungan ini mulai didirikan tempat-tempat pengajian al-Qur’an dan pengajaran tentang Islam sebagai cikal bakal madrasah dan pesantren, umumnya juga merupakan tempat beribadah (masjid).

Temuan ini diperkuat Prof. Dr. HAMKA yang menyebut bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya, HAMKA menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air. HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika.


Pembalseman Firaun Ramses II Pakai Kapur Barus Dari Nusantara

Dari berbagai literatur, diyakini bahwa kampung Islam di daerah pesisir Barat Pulau Sumatera itu bernama Barus atau yang juga disebut Fansur. Kampung kecil ini merupakan sebuah kampung kuno yang berada di antara kota Singkil dan Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan Medan. Di zaman Sriwijaya, kota Barus masuk dalam wilayahnya. Namun ketika Sriwijaya mengalami kemunduran dan digantikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam, Barus pun masuk dalam wilayah Aceh.

Amat mungkin Barus merupakan kota tertua di Indonesia mengingat dari seluruh kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal Masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China, dan sebagainya.

Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Aleksandria Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus.

Bahkan dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5. 000 tahun sebelum Masehi!

Berdasakan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era itu.

Sebuah Tim Arkeolog yang berasal dari Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO) Perancis yang bekerjasama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua-Barus, telah menemukan bahwa pada sekitar abad 9-12 Masehi, Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi-etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, India, China, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan sebagainya.

Tim tersebut menemukan banyak benda-benda berkualitas tinggi yang usianya sudah ratusan tahun dan ini menandakan dahulu kala kehidupan di Barus itu sangatlah makmur.
Di Barus dan sekitarnya, banyak pedagang Islam yang terdiri dari orang Arab, Aceh, dan sebagainya hidup dengan berkecukupan. Mereka memiliki kedudukan baik dan pengaruh cukup besar di dalam masyarakat maupun pemerintah (Kerajaan Budha Sriwijaya). Bahkan kemudian ada juga yang ikut berkuasa di sejumlah bandar. Mereka banyak yang bersahabat, juga berkeluarga dengan raja, adipati, atau pembesar-pembesar Sriwijaya lainnya. Mereka sering pula menjadi penasehat raja, adipati, atau penguasa setempat. Makin lama makin banyak pula penduduk setempat yang memeluk Islam. Bahkan ada pula raja, adipati, atau penguasa setempat yang akhirnya masuk Islam. Tentunya dengan jalan damai 

Sejarahwan T. W. Arnold dalam karyanya “The Preaching of Islam” (1968) juga menguatkan temuan bahwa agama Islam telah dibawa oleh mubaligh-mubaligh Islam asal jazirah Arab ke Nusantara sejak awal abad ke-7 M.

Setelah abad ke-7 M, Islam mulai berkembang di kawasan ini, misal, menurut laporan sejarah negeri Tiongkok bahwa pada tahun 977 M, seorang duta Islam bernama Pu Ali (Abu Ali) diketahui telah mengunjungi negeri Tiongkok mewakili sebuah negeri di Nusantara (F. Hirth dan W. W. Rockhill (terj), Chau Ju Kua, His Work On Chinese and Arab Trade in XII Centuries, St.Petersburg: Paragon Book, 1966, hal. 159).

Bukti lainnya, di daerah Leran, Gresik, Jawa Timur, sebuah batu nisan kepunyaan seorang Muslimah bernama Fatimah binti Maimun bertanggal tahun 1082 telah ditemukan. Penemuan ini membuktikan bahwa Islam telah merambah Jawa Timur di abad ke-11 M (S. Q. Fatini, Islam Comes to Malaysia, Singapura: M. S. R.I., 1963, hal. 39).

Dari bukti-bukti di atas, dapat dipastikan bahwa Islam telah masuk ke Nusantara pada masa Rasulullah masih hidup. Secara ringkas dapat dipaparkan sebagai berikut: Rasululah menerima wahyu pertama di tahun 610 M, dua setengah tahun kemudian menerima wahyu kedua (kuartal pertama tahun 613 M), lalu tiga tahun lamanya berdakwah secara diam-diam—periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar kuartal pertama tahun 616 M), setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka dari Makkah ke seluruh Jazirah Arab.

Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Jadi hanya 9 tahun sejak Rasulullah SAW memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera sudah terdapat sebuah perkampungan Islam.

Selaras dengan zamannya, saat itu umat Islam belum memiliki mushaf Al-Qur’an, karena mushaf Al-Qur’an baru selesai dibukukan pada zaman Khalif Utsman bin Affan pada tahun 30 H atau 651 M. Naskah Qur’an pertama kali hanya dibuat tujuh buah yang kemudian oleh Khalif Utsman dikirim ke pusat-pusat kekuasaan kaum Muslimin yang dipandang penting yakni (1) Makkah, (2) Damaskus, (3) San’a di Yaman, (4) Bahrain, (5) Basrah, (6) Kuffah, dan (7) yang terakhir dipegang sendiri oleh Khalif Utsman.

Naskah Qur’an yang tujuh itu dibubuhi cap kekhalifahan dan menjadi dasar bagi semua pihak yang berkeinginan menulis ulang. Naskah-naskah tua dari zaman Khalifah Utsman bin Affan itu masih bisa dijumpai dan tersimpan pada berbagai museum dunia. Sebuah di antaranya tersimpan pada Museum di Tashkent, Asia Tengah.

Mengingat bekas-bekas darah pada lembaran-lembaran naskah tua itu maka pihak-pihak kepurbakalaan memastikan bahwa naskah Qur’an itu merupakan al-Mushaf yang tengah dibaca Khalif Utsman sewaktu mendadak kaum perusuh di Ibukota menyerbu gedung kediamannya dan membunuh sang Khalifah.

Perjanjian Versailes (Versailes Treaty), yaitu perjanjian damai yang diikat pihak Sekutu dengan Jerman pada akhir Perang Dunia I, di dalam pasal 246 mencantumkan sebuah ketentuan mengenai naskah tua peninggalan Khalifah Ustman bin Affan itu yang berbunyi: (246) Di dalam tempo enam bulan sesudah Perjanjian sekarang ini memperoleh kekuatannya, pihak Jerman menyerahkan kepada Yang Mulia Raja Hejaz naskah asli Al-Qur’an dari masa Khalif Utsman, yang diangkut dari Madinah oleh pembesar-pembesar Turki, dan menurut keterangan, telah dihadiahkan kepada bekas Kaisar William II (Joesoef Sou’yb, Sejarah Khulafaur Rasyidin, Bulan Bintang, cet. 1, 1979, hal. 390-391).

Sebab itu, cara berdoa dan beribadah lainnya pada saat itu diyakini berdasarkan ingatan para pedagang Arab Islam yang juga termasuk para al-Huffadz atau penghapal al-Qur’an.

Menengok catatan sejarah, pada seperempat abad ke-7 M, kerajaan Budha Sriwijaya tengah berkuasa atas Sumatera. Untuk bisa mendirikan sebuah perkampungan yang berbeda dari agama resmi kerajaan—perkampungan Arab Islam—tentu membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum diizinkan penguasa atau raja. Harus bersosialisasi dengan baik dulu kepada penguasa, hingga akrab dan dipercaya oleh kalangan kerajaan maupun rakyat sekitar, menambah populasi Muslim di wilayah yang sama yang berarti para pedagang Arab ini melakukan pembauran dengan jalan menikahi perempuan-perempuan pribumi dan memiliki anak, setelah semua syarat itu terpenuhi baru mereka—para pedagang Arab Islam ini—bisa mendirikan sebuah kampung di mana nilai-nilai Islam bisa hidup di bawah kekuasaan kerajaan Budha Sriwijaya.

Perjalanan dari Sumatera sampai ke Makkah pada abad itu, dengan mempergunakan kapal laut dan transit dulu di Tanjung Comorin, India, konon memakan waktu dua setengah sampai hampir tiga tahun. Jika tahun 625 dikurangi 2, 5 tahun, maka yang didapat adalah tahun 622 Masehi lebih enam bulan. Untuk melengkapi semua syarat mendirikan sebuah perkampungan Islam seperti yang telah disinggung di atas, setidaknya memerlukan waktu selama 5 hingga 10 tahun.

Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya para pedagang Arab yang mula-mula membawa Islam masuk ke Nusantara adalah orang-orang Arab Islam generasi pertama para shahabat Rasulullah, segenerasi dengan Ali bin Abi Thalib r. A..

Kenyataan inilah yang membuat sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara sangat yakin bahwa Islam masuk ke Nusantara pada saat Rasulullah masih hidup di Makkah dan Madinah. Bahkan Mansyur Suryanegara lebih berani lagi dengan menegaskan bahwa sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, saat masih memimpin kabilah dagang kepunyaan Khadijah ke Syam dan dikenal sebagai seorang pemuda Arab yang berasal dari keluarga bangsawan Quraisy yang jujur, rendah hati, amanah, kuat, dan cerdas, di sinilah ia bertemu dengan para pedagang dari Nusantara yang juga telah menjangkau negeri Syam untuk berniaga.

“Sebab itu, ketika Muhammad diangkat menjadi Rasul dan mendakwahkan Islam, maka para pedagang di Nusantara sudah mengenal beliau dengan baik dan dengan cepat dan tangan terbuka menerima dakwah beliau itu, ” ujar Mansyur yakin.

Dalam literatur kuno asal Tiongkok tersebut, orang-orang Arab disebut sebagai orang-orang Ta Shih, sedang Amirul Mukminin disebut sebagai Tan mi mo ni’. Disebutkan bahwa duta Tan mi mo ni’, utusan Khalifah, telah hadir di Nusantara pada tahun 651 Masehi atau 31 Hijriah dan menceritakan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dengan telah tiga kali berganti kepemimpinan. Dengan demikian, duta Muslim itu datang ke Nusantara di perkampungan Islam di pesisir pantai Sumatera pada saat kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan (644-656 M). Hanya berselang duapuluh tahun setelah Rasulullah SAW wafat (632 M).

Catatan-catatan kuno itu juga memaparkan bahwa para peziarah Budha dari Cina sering menumpang kapal-kapal ekspedisi milik orang-orang Arab sejak menjelang abad ke-7 Masehi untuk mengunjungi India dengan singgah di Malaka yang menjadi wilayah kerajaan Budha Sriwijaya.

Gujarat Sekadar Tempat Singgah

Jelas, Islam di Nusantara termasuk generasi Islam pertama. Inilah yang oleh banyak sejarawan dikenal sebagai Teori Makkah. Jadi Islam di Nusantara ini sebenarnya bukan berasal dari para pedagang India (Gujarat) atau yang dikenal sebagai Teori Gujarat yang berasal dari Snouck Hurgronje, karena para pedagang yang datang dari India, mereka ini sebenarnya berasal dari Jazirah Arab, lalu dalam perjalanan melayari lautan menuju Sumatera (Kutaraja atau Banda Aceh sekarang ini) mereka singgah dulu di India yang daratannya merupakan sebuah tanjung besar (Tanjung Comorin) yang menjorok ke tengah Samudera Hindia dan nyaris tepat berada di tengah antara Jazirah Arab dengan Sumatera.

Bukalah atlas Asia Selatan, kita akan bisa memahami mengapa para pedagang dari Jazirah Arab menjadikan India sebagai tempat transit yang sangat strategis sebelum meneruskan perjalanan ke Sumatera maupun yang meneruskan ekspedisi ke Kanton di Cina. Setelah singgah di India beberapa lama, pedagang Arab ini terus berlayar ke Banda Aceh, Barus, terus menyusuri pesisir Barat Sumatera, atau juga ada yang ke Malaka dan terus ke berbagai pusat-pusat perdagangan di daerah ini hingga pusat Kerajaan Budha Sriwijaya di selatan Sumatera (sekitar Palembang), lalu mereka ada pula yang melanjutkan ekspedisi ke Cina atau Jawa.

Disebabkan letaknya yang sangat strategis, selain Barus, Banda Aceh ini telah dikenal sejak zaman dahulu. Rute pelayaran perniagaan dari Makkah dan India menuju Malaka, pertama-tama diyakini bersinggungan dahulu dengan Banda Aceh, baru menyusuri pesisir barat Sumatera menuju Barus. Dengan demikian, bukan hal yang aneh jika Banda Aceh inilah yang pertama kali disinari cahaya Islam yang dibawa oleh para pedagang Arab. Sebab itu, Banda Aceh sampai sekarang dikenal dengan sebutan Serambi Makkah


Ditulis oleh Rizki Ridyasmara - eramuslim.com

[islamedia]

Monday, 5 October 2015

27 Rejab Peristiwa Israk & Mikraj Nabi Muhammad



بِسۡـــــــــمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّد وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ

27 Rejab Peristiwa Israk & Mikraj Nabi Muhammad.
Pada tarikh 27 Rejab setiap tahun, umat Islam diseluruh dunia akan mengadakan majlis sambutan Israk dan Mikraj. Peristiwa Israk dan Mikraj berlaku pada 27 Rejab, setahun sebelum Hijrah Nabi Muhammad ﷺ dari Mekkah ke Madinah. Apabila bercerita tentang peristiwa Israk dan Mikraj ini, kita secara spontan akan terbayang kisah perjalanan Rasulullah ﷺ bersama malaikat Jibril dan Mikail yang boleh dibahagikan kepada dua fasa:
  1. Israk yakni perjalanan Nabi Muhammad ﷺ menaiki binatang Buraq dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa, di Baitulmaqdis, Palestin.
  2. Mikraj ialah perjalanan dari Masjidil Aqsa ke Sidratil Muntaha di langit yang ketujuh. Perjalanan Nabi Muhammadﷺ ini telah diabadikan oleh Allah سبحانه وتعالى di dalam Al-Quran:
Firman Allah سبحانه وتعالى:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَاۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ ﴿١

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Surah Al-Israa’: Ayat 1).
.
Menariknya, keseluruhan perjalanan Rasulullah ﷺ hanya berlangsung pada satu malam. Para ulama, hadis, ulama feqah dan ulama tafsir secara umum menegaskan bahawa perisitiwa Israk dan Mikraj di mana kedua-duanya berlaku dalam satu malam dan dalam keadaan baginda ﷺ sedar. Ia berlaku pada jasad atau tubuh dan roh Nabi Muhammadﷺ bukannya roh sahaja.
Sebagaimana difahami daripada firman Allah dalam ayat tadi di mana Allah سبحانه وتعالى menegaskan “asra bi ‘abdihi lailan” yang bermaksud memperjalankan hamba-Nya pada waktu malam. Perkataan hamba yang dimaksudkan di sini iaitu Nabi Muhammad ﷺ yang mana meliputi batang tubuh dan rohnya serentak bukannya rohnya sahaja.
Jika ia berlaku pada rohnya sahaja maka sudah tentu firman Allah itu berbunyi “asra bi rohi ‘abdihi lailan” yang bermaksud memperjalankan roh hamba-Nya pada waktu malam tetapi yang berlaku sebaliknya di mana Allah secara jelas menyatakan bahawa Dia telah memperjalankan hamba-Nya iaitu Nabi Muhammadﷺ dalam keadaan tubuh dan rohnya serentak.
Peristiwa ini pada pandangan orang yang tidak beriman atau mereka yang tipis imannya, mereka menyatakan bahawa peristiwa ini tidak mungkin akan berlaku atau pun mereka berbelah bahagi samada mahu mempercayainya atau pun sebaliknya. Tetapi bagi orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan rasul-Nya maka mereka tetap percaya dengan penuh keimanan kepada peristiwa ini.
Setelah Rasulullah ﷺ menceritakan apa yang telah terjadi padanya kepada masyarakat umum maka orang-orang kafir bertambah kuat mengejek dan mendustakan Baginda ﷺ. Fitnah terhadap Baginda ﷺ bertambah kuat malah ada juga di kalangan mereka yang sebelum ini telah memeluk Islam telah pun murtad kembali. Manakala bagi mereka yang begitu membenarkan Baginda ﷺ, maka iman mereka tetap utuh sebagaimana kita lihat kepada reaksi Sayyidina Abu Bakar apabila dia mendengar berita daripada orang ramai tentang apa yang telah diberitahu oleh Nabi Muhammad ﷺ lalu beliau dengan tegas menyatakan :
“Benar! Aku mengakui bahawa engkau merupakan Rasulullah . Jika baginda mengatakan bahawa baginda telah diperjalankan lebih jauh daripada itu maka aku tetap beriman kepadanya.”
 Inilah ketegasan dan keyakinan yang tidak berbelah bahagi Sayyidina Abu Bakar dalam mempercayai Allah dan rasul-Nya sehingga beliau digelar as-Siddiq yang membawa maksud pembenar.
Selain itu, pernah juga diriwayatkan Nabi Muhammad ﷺ berjumpa dengan pelbagai keadaan manusia ketika di dalam perjalanan tersebut. Meskipun kisah tentang peristiwa bersejarah ini seringkali diulangcerita oleh para penceramah setiap kali sambutan Israk dan Mikraj diadakan, saya melihat roh dan intipati di sebalik peristiwa ini masih tidak meresap ke dalam jiwa masyarakat Islam.
.
.

A. Sebelum Israk dan Mikraj

.
Sebelum melalui kejadian Israk dan Mikraj, Nabi Muhammadﷺ mengalami pembedahan dada yang dilakukan oleh malaikat Jibrail dan Mika’il. Hati Baginda ﷺ dicuci dengan air zam-zam serta dibuang ketulan hitam (‘alaqah) iaitu tempat syaitan membisikkan was²nya. Kemudian dituangkan hikmah, ilmu dan iman ke dalam dada Rasulullah ﷺ. Setelah itu, dada Baginda ﷺ dijahit dan dimeterikan dengan “khatimin nubuwwah”.
Selesai pembedahan, didatangkan binatang bernama “Buraq” untuk ditunggangi oleh Rasulullah ﷺ dalam perjalanan luar biasa yang dinamakan “Israk” itu.
.
.

B. Semasa Israk

(Perjalanan dari Masjidil-Haram ke Masjidil-Aqsa):
.
Sepanjang perjalanan (Israk) itu Nabi Muhammad ﷺdiiringi (ditemani) oleh malaikat Jibrail dan Israfil. Tiba di tempat² tertentu (tempat² yang mulia dan bersejarah), Rasulullah ﷺ telah diarah oleh Jibrail supaya berhenti dan bersolat sebanyak dua rakaat.
Di antara tempat² berkenaan adalah:
  1. Negeri Thaibah (Madinah), tempat di mana Rasulullah ﷺ akan melakukan hijrah.
  2. Bukit Tursina, iaitu tempat Nabi Musa A.S. menerima wahyu daripada Allah سبحانه وتعالى;
  3. Baitul-Laham (tempat Nabi Isa A.S. dilahirkan);
.
.

Peristiwa Ajaib

.
Dalam perjalanan itu juga Nabi Muhammad ﷺ menghadapi gangguan jin ‘Afrit dengan api jamung dan dapat menyasikan peristiwa² simbolik yang amat ajaib.
Di antara peristiwa-peristiwa tersebut adalah seperti berikut :
.
    1. Kaum yang sedang bertanam dan terus menuai hasil tanaman mereka. apabila dituai, hasil (buah) yang baru keluar semula seolah-olah belum lagi dituai. Hal ini berlaku berulang-ulang. Rasulullah ﷺ dibertahu oleh Jibrail : “Itulah kaum yang berjihad “Fisabilillah” yang digandakan pahala kebajikan sebanyak 700 kali ganda bahkan sehingga gandaan yang lebih banyak.”
    2. Tempat yang berbau harum. Rasulullah ﷺ diberitahu oleh Jibrail : “Itulah bau kubur Masyitah (tukang sisir rambut anak Fir’aun) bersama suaminya dan anak²nya (termasuk bayi yang dapat bercakap untuk menguatkan iman ibunya) yang dibunuh oleh Fir’aun kerana tetap teguh beriman kepada Allah سبحانه وتعالى  (tak mahu mengakui Fir’aun sebagai Tuhan).”
    3. Sekumpulan orang yang sedang memecahkan kepala mereka. Setiap kali dipecahkan, kepala mereka sembuh kembali, lalu dipecahkan pula. Demikian dilakukan berkali-kali. Jibrail memberitahu Rasulullah ﷺ: “Itulah orang² yang berat kepala mereka untuk sujud (solat).”
    4. Sekumpulan orang yang hanya menutup kemaluan mereka (qubul dan dubur) dengan secebis kain. Mereka dihalau seperti binatang ternakan. Mereka makan bara api dan batu dari neraka Jahannam. Kata Jibrail : “Itulah orang² yang tidak mengeluarkan zakat harta mereka.”
    5. Satu kaum, lelaki dan perempuan, yang memakan daging mentah yang busuk sedangkan daging masak ada di sisi mereka. Kata Jibrail: “Itulah lelaki dan perempuan yang melakukan zina sedangkan lelaki dan perempuan itu masing² mempunyai isteri / suami.”
    6. Lelaki yang berenang dalam sungai darah dan dilontarkan batu. Kata Jibrail: “Itulah orang yang makan riba`.”
    7. Lelaki yang menghimpun seberkas kayu dan dia tak terdaya memikulnya, tapi ditambah lagi kayu yang lain. Kata Jibrail: “Itulah orang tak dapat menunaikan amanah tetapi masih menerima amanah yang lain.”
    8. Satu kaum yang sedang menggunting lidah dan bibir mereka dengan gunting besi berkali-kali. Setiap kali digunting, lidah dan bibir mereka kembali seperti biasa. Kata Jibrail: “Itulah orang yang membuat fitnah dan mengatakan sesuatu yang dia sendiri tidak melakukannya.”
    9. Kaum yang mencakar muka dan dada mereka dengan kuku tembaga mereka. Kata Jibrail: “Itulah orang yang memakan daging manusia (mengumpat) dan menjatuhkan maruah (mencela, menghinakan) orang.”
    10. Seekor lembu jantan yang besar keluar dari lubang yang sempit. Tak dapat dimasukinya semula lubang itu. Kata Jibrail: “Itulah orang yang bercakap besar (Takabbur). Kemudian menyesal, tapi sudah terlambat.”
    11. Seorang perempuan dengan dulang yang penuh dengan pelbagai perhiasan. Rasulullah ﷺ tidak memperdulikannya. Kata Jibrail: Itulah dunia. “Jika Rasulullah memberi perhatian kepadanya, nescaya umat Islam akan mengutamakan dunia daripada akhirat.”
    12. Seorang perempuan tua duduk di tengah jalan dan menyuruh Rasulullah ﷺ berhenti. Rasulullah ﷺtidak menghiraukannya. Kata Jibrail: “Itulah orang yang mensesiakan umurnya sampai ke tua.”
    13. Seorang perempuan bongkok tiga menahan Rasulullah ﷺ untuk bertanyakan sesuatu. Kata Jibrail: “Itulah gambaran umur dunia yang sangat tua dan menanti saat hari kiamat.”
.
Setibanya di masjid Al-Aqsa, Nabi Muhammad ﷺ turun dari Buraq. Kemudian masuk ke dalam masjid dan mengimamkan solat dua rakaat dengan segala anbia` dan mursalin menjadi makmum.
Nabi Muhammad ﷺ terasa dahaga, lalu dibawa Jibrail dua bekas yang berisi arak dan susu. Rasulullah ﷺ memilih susu lalu diminumnya. Kata Jibrail: “Baginda membuat pilhan yang betul. Jika arak itu dipilih, nescaya ramai umat baginda akan menjadi sesat.”
.
.

C.  Semasa Mikraj

(Naik ke Hadhratul-Qudus Menemui Allah سبحانه وتعالى):
.
Didatangkan Mikraj (tangga) yang indah dari syurga. Nabi Muhammad h ﷺ dan Jibrail naik ke atas tangga pertama lalu terangkat ke pintu langit dunia (pintu Hafzhah).
.
  1. Di Tangga Pertama:
Nabi Muhammad ﷺ dan Jibrail masuk ke langit pertama, lalu berjumpa dengan Nabi Adam A.S. Kemudian dapat melihat orang² yang makan riba` dan harta anak yatim dan melihat orang berzina yang rupa dan kelakuan mereka sangat huduh dan buruk. Penzina lelaki bergantung pada susu penzina perempuan.
.
  1. Di Tangga Kedua:
Nabi Muhammad ﷺ. dan Jibrail naik tangga langit yang kedua, lalu masuk dan bertemu dengan Nabi ‘Isa A.S. dan Nabi Yahya A.S.
.
  1. Di Tangga Ketiga:
Naik langit ketiga. Rasulullah ﷺ bertemu dengan Nabi Yusuf A.S.
.
  1. Di Tangga Keempat:
Naik tangga langit keempat. Rasulullah ﷺ bertemu dengan Nabi Idris A.S.
.
  1. Di Tangga Kelima:
Naik tangga langit kelima. Rasulullah ﷺ bertemu dengan Nabi Harun A.S. yang dikelilingi oleh kaumnya Bani Israil.
.
  1. Di Tangga Keenam:
Naik tangga langit keenam. Nabi Muhammad ﷺ bertemu dengan Nabi². Seterusnya dengan Nabi Musa A.S. Rasulullah ﷺ mengangkat kepala (disuruh oleh Jibrail) lalu dapat melihat umat baginda sendiri yang ramai, termasuk 70,000 orang yang masuk syurga tanpa hisab.
.
  1. Di Tangga Ketujuh:
Naik tangga langit ketujuh dan masuk langit ketujuh lalu bertemu dengan Nabi Ibrahim Khalilullah yang sedang bersandar di Baitul-Ma’mur dihadapi oleh beberapa kaumnya. Kepada Rasulullah ﷺ.
Nabi Ibrahim A.S. bersabda, “Dikau akan berjumapa dengan Allah سبحانه وتعالى pada malam ini. Umatmu adalah akhir umat dan terlalu dha’if, maka berdoalah untuk umatmu. Suruhlah umatmu menanam tanaman syurga iaitu:
“LAH HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH.”
Mengikut riwayat lain, Nabi Ibrahim A.S. bersabda, “Sampaikan salamku kepada umatmu dan beritahu mereka, syurga itu baik tanahnya, tawar airnya dan tanamannya ialah lima kalimah, iaitu:
“SUBHANALLAH, WAL-HAMDULILLAH, WA LA ILAHA ILLALLAH ALLAHU AKBAR dan WA LA HAULA WA LA QUWWATA ILLA BILLAHIL- ‘ALIYYIL-‘AZHIM.”
Bagi orang yang membaca setiap kalimah ini akan ditanamkan sepohon pokok dalam syurga.”
Setelah melihat beberpa peristiwa! lain yang ajaib. Rasulullah ﷺ dan Jibrail masuk ke dalam Baitul-Makmur dan bersolat (Baitul-Makmur ini betul² di atas Baitullah di Mekah).
.
  1. Di Tangga Kelapan:
Di sinilah disebut “al-Kursi” yang berbetulan dengan dahan pokok Sidratul-Muntaha. Rasulullah ﷺ menyaksikan pelbagai keajaiban pada pokok itu: Sungai air yang tak berubah, sungai susu, sungai arak dan sungai madu lebah. Buah, daun², batang dan dahannya berubah-ubah warna dan bertukar menjadi permata² yang indah. Unggas² emas berterbangan. Semua keindahan itu tak terperi oleh manusia. Baginda ﷺ dapat menyaksikan juga sungai Al-Kautsar yang terus masuk ke syurga. Seterusnya baginda masuk ke syurga dan melihat neraka berserta dengan Malik penunggunya.
.
  1. Di Tangga Kesembilan:
Di sini berbetulan dengan pucuk pokok Sidratul-Muntaha. Rasulullah ﷺmasuk di dalam nur dan naik ke Mustawa dan Sharirul-Aqlam. Lalu dapat melihat seorang lelaki yang ghaib di dalam nur ‘Arasy, iaitu lelaki di dunia yang lidahnya sering basah berzikir, hatinya tertumpu penuh kepada masjid dan tidak memaki ibu bapanya.
.
10.  Di Tangga Kesepuluh: 
Rasulullah ﷺ sampai di Hadhratul-Qudus dan Hadhrat Rabbul-Arbab lalu dapat menyaksikan Allah سبحانه وتعالى dengan mata kepalanya, lantas sujud. Kemudian berlakulah dialog antara Allah سبحانه وتعالى dan Muhammad, Rasul-Nya:
Allah سبحانه وتعالى: “Ya Muhammad!”
Nabi Muhammad ﷺ: “Labbaika.”
Allah سبحانه وتعالى: “Angkatlah kepalamu dan bermohonlah, Kami perkenankan.”
Nabi Muhammad ﷺ : “Wahai Tuhanku! Dikau telah ambil Ibrahim sebagai Khalil dan Dikau berikan dia kerajaan yang besar. Dikau berkata-kata dengan Musa. Dikau berikan Dawud kerajaan yang besar dan dapat melembutkan besi. Dikau kurniakan kerajaan kepada Sulaiman yang tidak Dikau kurniakan kepada sesiapa pun dan memudahkan Sulaiman menguasai jin, manusia, syaitan dan angin. Dikau ajarkan ‘Isa Taurat dan Injil. Dengan izin-Mu, dia dapat menyembuhkan orang buta, orang sufaq dan menghidupkan orang mati. Dikau lindungi dia dan ibunya daripada syaitan.”
Allah سبحانه وتعالى: “Aku ambilmu sebagai kekasih. Aku perkenankanmu sebagai penyampai berita gembira dan amaran kepada umatmu. Aku buka dadamu dan buangkan dosamu. Aku jadikan umatmu sebaik-baik umat. Aku beri keutamaan dan keistimewaan kepadamu pada hari qiamat. Aku kurniakan tujuh ayat (Surah Al-Fatihah) yang tidak aku kurniakan kepada sesiapa sebelummu. Aku berikanmu ayat² di akhir surah al-Baqarah sebagai suatu perbendaharaan di bawah ‘Arasy. Aku berikan habuan daripada kelebihan Islam, hijrah, sedekah dan amar makruf dan nahi munkar. Aku kurniakanmu panji² Liwa-ul-hamd, maka Adam dan semua yang lainnya di bawah panji-panjimu. Dan aku fardhukan atasmu dan umatmu lima puluh (waktu) solat.”
.
.

D. Selesai Munajat

.
Selepas selesai munajat, Nabi Muhammad ﷺ di bawa menemui Nabi Ibrahim A. S. kemudian Nabi Musa A.S. yang kemudiannya menyuruh Rasulullah ﷺ merayu kepada Allah سبحانه وتعالى agar diberi keringanan, mengurangkan jumlah waktu solat itu. Selepas sembilan kali merayu, (setiap kali dikurangkan lima waktu), akhirnya Allah سبحانه وتعالى perkenan memfardhukan solat lima waktu sehari semalam dengan mengekalkan nilainya sebanyak 50 waktu juga.
.
.

E. Selepas Mikraj

.
Nabi Muhammad ﷺ turun ke langit dunia semula. Seterusnya turun ke Baitul-Maqdis. Lalu menunggang Buraq perjalanan pulang ke Mekah pada malam yang sama. Dalam perjalanan ini baginda bertemu dengan beberapa peristiwa yang kemudiannya menjadi saksi (bukti) peristiwa Israk dan Mikraj yang amat ajaib itu (Daripada satu riwayat peristiwa itu berlaku pada malam Isnin, 27 Rejab, kira-kira 18 bulan sebelum hijrah).
(Sumber : Kitab Jam’ul-Fawaa`id)
.
.

Penutup

Peristiwa Israk dan Mikraj bukan hanya sekadar sebuah kisah sejarah yang diceritakan kembali setiap kali 27 Rejab menjelang. Adalah lebih penting untuk kita menghayati pengajaran di sebalik peristiwa tersebut bagi meneladani perkara yang baik dan menjauhi perkara yang tidak baik. Peristiwa Israk dan Mikraj yang memperlihatkan pelbagai kejadian aneh yang penuh pengajaran seharusnya memberi keinsafan kepada kita agar sentiasa mengingati Allah سبحانه وتعالى dan takut kepada kekuasaan-Nya.
Seandainya peristiwa dalam Israk dan Mikraj ini dipelajari dan dihayati benar-benar kemungkinan manusia mampu mengelakkan dirinya daripada melakukan berbagai-bagai kejahatan. Kejadian Israk dan Mikraj juga adalah untuk menguji umat Islam (apakah percaya atau tidak dengan peristiwa tersebut). Orang² kafir di zaman Nabi ﷺ langsung tidak mempercayai, malahan memperolok-olokkan Nabi Muhammad ﷺ sebaik Baginda  bercerita kepada mereka.
Peristiwa Israk dan Mikraj itu merupakan ujian dan mukjizat yang membuktikan kudrat atau kekuasaan Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى telah menunjukkan bukti² kekuasaan dan kebesaran-Nya kepada Baginda  ﷺ.
.
Firman Allah سبحانه وتعالى:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَاۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ ﴿١

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Surah Al-Israa’: Ayat 1).

Tuesday, 10 February 2015

Kelebihan Surah Ruqyah bagi Mengesan Dan Mengusir Jin...

Saturday, 9 February 2013

Kelebihan Surah Ruqyah bagi Mengesan Dan Mengusir Jin...


Banyak kita dengar cerita-cerita tentang Jin dan sihir. Dalam masyarakat melayu, jin ni lebih dikenali sebagai makhluk halus iaitu makhluk yang tidak dapat dilihat. Perkataan Jin berasal daripada perkataan arab iaitu Jiniy dan Genie dlm bahasa inggeris yang membawa maksud yang tersembunyi / yang tertutup, dlm Islam memaksudkan jin ini makhluk yang berakal, berkehendak, sedar, mempunyai kewajipan, berjasad halus dan hidup dibumi.

Dalam sebuah hadith dari Abu Tha'labah yang bermaksud: "Jin itu ada tiga jenis iaitu : Jenis yang mempunyai sayap dan terbang di udara, Jenis ular dan jengking dan Jenis yang menetap dan berpindah-pindah." Sihir pula tergolong dalam kejahatan yang tercatat di dalam Al Quran, Wujudnya sihir di dunia ini adalah sebagai ujian dan cubaan walaupon sihir ini tidak diredhai oleh Allah SWT dan dilarang untuk melakukannya.OK maksud ringkasnya ialah, "Suatu perbuatan yang dilakukan dengan syarat-syarat yang tertentu, dibawah keadaan dan persiapan-persiapan yang aneh dengan cara-cara yang misteri. "

Cara untuk mengesan dan atasi gangguan-gangguan ini antaranya ialah menggunakan Ayat Ruqyah. Ayat RUkyah ni ialah gabungan dari ayat-ayat Al Quran yang boleh digunakan untuk mengesan jin dalam badan atau di rumah kita. Maksud ruqyah adalah al-‘udzah (sebuah perlindungan) yang digunakan untuk melindungi orang yang terkena penyakit, seperti panas disebabkan sengatan binatang, dan mcm2 lagi”.
Keistimewaan Ayat Ini

Simptom yang akan didapati selepas mendengar:
  1. Denyutan jantung makin kencang.
  2. Badan bergegar.
  3. Ada benda bergerak-gerak bawah kulit.
  4. Mengantuk / menguap.
  5. Batuk.
  6. Gelisah.
  7. Panas di leher.

Selepas mendengar ayat ini, insyaalah dapat menghalau jin yang berada dalam tubuh kita. Penjelasannya adalah mudah, jin yang berada dalam tubuh kita akan bergerak melalui salruran darah kita, ayat-ayat ruqyah syariah ini pula amat mustajab dalam menyakiti mereka, lalu mereka akan kucar-kacir dalam darah kita lalu menyebabkan degupan jantung kita bertambah kencang. Bagi pesakit-pesakit sihir pula, jin dalam badan akan membuatkan kita mengantuk apabila mendengar mp3 ruqyah syariah ini. Dan bagi kes saka, kita akan terasa panas ditengkuk. 


Dengan mendegar mp3 ini, insyaAllah mampu menyembhkan penyakit – penyakit misteri antaranya:
  1. Fikiran runsing / jiwa gelisah.
  2. Menyembuhkan penyakit histeria,sihir dan saka.
  3. Mengusir jin didalam badan,rumah dan premis perniagaan.
  4. Ketengangan dalam rumahtangga.
  5. Menyembuhkan anak-anak yang menangis malam.
  6. Penambat kasih sayang antara anak dan ibubapa.
  7. Anak-anak mudah mendengar kata orang tua.
  8. Menguatkan hafalan dan pembelajaran.
  9. Membuatkan minda lebih positif dan fokus terhadap kerja dan pembelajaran.
  10. Membersihkan aura diri dan menyahkan energy-energy negatif dari badan.

Cara Menggunakan Mp3 Ini:

RUQYAH MP3 ini amat bagus diperdengarkan 3 kali sehari bagi mereka yang mengalami pelbagai penyakit gangguan jin, kerana fadhilat ayat-ayat tersebut amat mustajab bagi mengusir jin-jin jahat / sihir serta memagar diri kita. Selain itu pesakit juga kena baca banyak-banyak dalam hati tidak kira masa dan tempat zikir ‘THO HA’ (surah Taha ayat 1). Kesannya semasa membaca zikir itu adalah perut akan terasa mual dan seterusnya sendawa…Ini petanda segala jin-jin dalam tubuh kita beransur-ansur keluar…InsyaAllah..

Cara Khusus Untuk Tujuan Tertentu:
  1. Bagi kesihatan diri dan keluarga,pasangkan cd/mp3 ini didalam rumah / premis perniagaan 3 kali sehari atau pasangkan dari malam sampai pagi (auto repeat).
  2. Bagi pesakit gangguan jin, dilarang memasangnya didalam kereta, kesannya akan mengakibatkan kita mengantuk dan mengganggu pemanduan.
  3. Bagi anak-anak yang menangis pada waktu malam, anda perlu pasangkan dengan kuat, In Shaa Allah jin / syaitan akan lari dari mengganggu anak-anak anda.
  4. Untuk merawat histeria, sihir, saka dan lambat jodoh, sediakan 3 botol besar air mineral, buka penutupnya dan pasangkan cd / mp3 ruqyah ini 3 round sebelah air tadi (kira-kira 1jam 20 minit). Air tadi dibuat minum seteguk untuk 3x sehari dan lakukan hari berikutnya sehingga air tadi habis. Tiap-tiap lepas solat perlu baca qursy 3x dan al insyirah 3x secara istiqomah. Kemudian sebelah malamnya pula, cd/mp3 ruqyah ini hendaklah dipasang dari malam sampai pagi selama sebulan.
  5. Bagi memulihkan rumah / premis perniagaan yang bermasalah, cuma pasangkan 3x sehari untuk 3hari berturut-turut.
  6. Jika kita sering mengalami masalah malas dan badan terasa berat, perdengarkan cd / mp3 ruqyah ini 3x sehari, In Shaa Allah kita akan cergas dan kembali bersemangat.


Wednesday, 19 March 2014

Ayat Kursi ( dalam rumi ) Dan Terjemahan


Bacaan ayat kursi;

ALLAHU LAA ILAAHA ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUMU. LAA TA'KHUDZUHUU SINATUW WA LAA NAUUM. LAHUU MAA FISSAMAAWAATI WA MAA FIL ARDHI. MAN DZAL LADZII YASFA'U 'INDAHUU ILLAA BI IDZNIHI. YA'LAMU MAA BAINA AIDIIHIM WA MAA KHALFAHUM. WA LAA YUHITHUUNA BI SYAI-IN MIN 'ILMIHII ILLAA BI MAASYAA-A. WASI'A KURSIYYUHUSSAMAAWAATI WAL ARDHA. WA LAA YA-UDHUU HIFZHUHUMAA WAHUWAL 'ALIYYUL AZHIIM.


Ertinya :

Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Hidup lagi terus menerus mengurus makhlukNya, tidak mengantuk dan tidak tidur KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa'at (pertolongan) di sisi Allah tanpa izinNya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang meraka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi, Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS : Al-Baqarah : 255)


Ayat ini disebut ayat KURSI kerana di dalam nya terdapat perkataan KURSI, ertinya tempat duduk yang megah lagi yang mempunyai martabat. Kursi juga bermaksud pemerintahan dan kekuasaan.

Ayat Kursi merupakan ayat yang paling agung kerana mengisahkan keagungan Allah serta kekuasaan-Nya yang tidak terbatas. Ayat ini ialah ayat yang ke-255 dalam Surah Al-Baqarah.

Meskipun membaca dan mengamalkan ayat kursi mempunyai banyak khasiat, namun bagi hamba, membaca dan memahami ayat kursi adalah semata-mata untuk mencari keredhaannya dan bagi membetulkan pegangan dan menguatkan tauhid kita kepada Allah Taala. Bukan ada niat yang lain.

Terserahlah kepada Allah Taala untuk memberikan apa-apa ganjaran kepada kita ataupun  tidak atau untuk memberikan apa-apa manfaat dan khasiat kepada kita ataupun tidak. kerana kita adalah hambanya.

YAA SIIN


 
 
AL FAATIHATA WA YAA SIIN ILAA ARWAAHI WAALIDIINAA WA WAALIDIIKUM. WA ILAA ARWAAHIL MUSLIMIINAWAL MUSLIMAATI KAAF-FATAN ‘AAMMAH.
KHUSUUSAN ILAA RUUHIL MARHUM………
WA USUULIHI WA FURUU-‘IHII WAMAI YANTASIBU ILAIHI AJMA-‘IIN.
(Jika perempuan)
KHUSUUSAN ILA RUUHIL MARHUUMAH………..
WA USUULIHAA WAFURUU-‘IHAA WAMAI YANTASIBU ILAIHAA AJMA-‘IIN
WA ILAA HADH-RATIN NABIYIL MUSTAFAA RASUULILLAHI SALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM WA AALIHII WA-ASHAABIHIL-KIRAAMI
AL-FATIHAH
Maksudnya : Dibacakan AL-FATIHAH dan YAASIIN kepada arwah kedua ibu bapa kita dan ibu bapa kamu. Dan kepada semua arwah orang² islam lelaki dan perempuan.
Khususnya kepada arwah al-marhum…………
Atau al-marhumah…………,dan kepada anak cucunya, turun temurunnya dan mereka yang berkaitan kepadanya sekalian.
Dan seterusnya kepada junjungan mulia kita NABI MUHAMMAD s.a.w, keluarganya dan sahabat-sahabatnya yang mulia….
AL-FATIHAH….
BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM
Dengan menyebut nama ALLAH yang Maha pemurah lagi Maha penyayang.
  1. YAA SIIN.
ALLAH s.w.t lebih mengetahui tentangnya.
  1. WAL QUR-AA-NIL HAKIIM.
Demi AL-QURAN yang penuh hikmah.
  1. INNAKA LAMINAL MURSALIIN.
Sesungguhnya kamu (MUHAMMAD) salah seorang dari rasul-rasul.
  1. ‘ALAA SIRAATIM MUSTAQIIM.
(yang berada) di atas jalan yang lurus.
  1. TANZIILAL-‘AZIIZIIR RAHIIM.
(AL-QURAN itu) di turunkan oleh (ALLAH s.w.t) yang maha perkasa lagi maha penyayang.
  1. LITUNNZIRA QAUMAM MAA UNNZIRA AABAA UHUM FAHUM GHAAFILUUN.
Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang peringatan itu belum di berikan kepada datuk nenek mereka, maka kerana itu mereka menjadi lalai.
  1. LAQAD HAQQAL QAULU ‘ALAAA AKTSARIHIM FAHUM LAA YU’’ MINUUN.
Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan ALLAH s.w.t) terhadap kebanyakkan mereka, kerana mereka tidak beriman.
  1. INNAA JA-‘ALNAA FII ‘A-NAA QIHIM AGH-LAALAN FAHI YA ILAL AZQAANI FAHUM-MUQMAHUUN.
Sesungguhnya kami telah memasang pada leher mereka belenggu, lalu tangan mereka (diangkat) kepada dagu, maka kerana itu mereka terngadah (terdongak)
  1. WAJA’ALNAA MIM-BAINI AIDIIHIIM SADDAU WAMIN KHALFIHIM SADDAN FA-AGH SYAINAAHUM FAHUM LAA YUBSIRUUN.
Dan kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat (kebenaran)
  1. WASAWAA UN ‘ALAIHIM A-ANN ZARTAHUM AM LAM TUNN-ZIRHUM LAA YU’’ MINUUN.
Dan sama sahaja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan atau tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.
  1. INNAMAA TUNN-ZIRU MANIT TABA-‘AZZIKRA WA KHASYI-YAR RAHMAANA BILGHAIBI FABASY-SYIRHU-BIMAGH FIRATIW WA AJ-RINN KARIIM.
Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mahu mengikuti peringatan dan yang takut kepada tuhan yang maha pemurah walaupun dia tidak melihat-NYA.Maka berilah mereka khabar gembira dengan keampunan dan pahala yang mulia.
  1. INNAA NAHNU NUHYIL MAUTAA WANAKTUBU MAA QADDAMUU WA-AA-TSAARAHUM WAKULLA SYAIN-IN AHSAINAA HU FII IMAAMIMM MUBIIN.
Sesungguhnya kami menghidupkan orang-orang yang telah mati dan kami menuliskan apa yang telah (mereka) kerjakan dan kesan-kesan yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (iaitu Luh Mahfuzh)
  1. WADH-RIB LAHUM MA-TSALAN ASHAABAL QARYATI IZJAAA A-HAL MURSALUUN.
Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, iaitu penduduk suatu negeri ketika datang kepada mereka para utusan.
  1. IZ-ARSALNAA ILAIHI-MUTS NAINI FAKAZ-ZABUU HUMAA FA ‘AZ-ZAZ NAA BITSAA-LI-TSINN FAQAA LUUU INNAAA ILAIKUM MURSALUUN.
(iaitu) ketika kami mengutus kepada mereka dua orang utusan.Lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka (ketiga-tiga utusan itu) berkata : “sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu”.
  1. QAALUU MAA-ANTUM ILLAA BASYARUM MITSLUNAA WAMAA ANNZALAR RAHMAANU MINN SYAI-IN IN ANN-TUM ILLAA TAKZIBUUN.
Mereka (penduduk negeri itu) menjawab: “kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan tidaklah ALLAH yang maha pemurah menurunkan sesuatu pun, sesungguhnya kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.”
  1. QAALUU RABBUNAA YA’ LAMU INNAAA ILAIKUM LAMURSALUUN.
Mereka (utusan itu) berkata: “Tuhan kami mengetahui bahawa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu”
  1. WAMAA ‘ALAINAAA ILLAL BALAA-GHUL MUBIIN.
Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah ALLAH s.w.t) dengan jelas.”
  1. QAA LUUU IN-NAA TATAY-YARNAA BIKUM LA-IL-LAM TANN-TAHUU LANAR JUMANNAKUM WALAYAMAS-SANNAKUM MINNAA ‘AZAABUN ALIIM.
Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang kerana kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), nescaya kami akan merejam kamu dan kamu pasti akan mendapat seksa yang pedih dari kami.”
  1. QAALUU TAAA IRUKUM MA ‘AKUM A-IN ZUKKIRTUM BAL ANN-TUM QAUMUM MUSRIFUUN.
Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu itu adalah kerana kamu sendiri.Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.”
  1. WAJAAA A-MIN AQSAL MADIINATI RAJULUY YAS ‘’AA QAALA YAA QAUMIT TABI-‘UL MURSALIIN.
Dan datanglah dari hujung kota seorang lelaki, dengan bergegas-gegas dia berkata: “Wahai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu.
  1. IT TABI ‘UU MAL-LAA YAS-ALUKUM AJRAU WAHUM MUHTADUUN.
Ikutilah oleh kamu orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
  1. WAMAALIYA LAA A’-BUDUL LAZII FATARANII WA ILAIHI TURJA-‘UUN.
Mengapa aku tidak menyembah (tuhan) yang telah menciptakan dan yang hanya kepada-NYA kamu (semua) akan dikembalikan?
  1. A-AT-TAKHIZU MIN DUUNIHII AA-LIHATAN IY YURIDNIR RAHMAANU BIDHUR-RIL LAA TUGHNI ‘ANNII SYAFAA ‘A-TUHUM SYAI AU WALAA YUNG QIZUUN.
Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-NYA, jika (ALLAH s.w.t) yang maha pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, nescaya tidak memberi manfaat syafaat mereka sedikit pun bagi diriku dan tidak (pula) dapat menyelamatkanku?
  1. INN-NII IZAL LAFII DHALAA LIMM MUBIN.
Sesungguhnya aku (jika demikian) pasti berada dalam kesesatan yang nyata.
  1. INN-NII AA-MANNTU BIRABBIKUM FASMA ‘UUN.
Sesungguhnya aku telah beriman kepada tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku.”
  1. QIILAD KHULIL JAN-NATA QAALA YAA LAITA QAUMII YA’LAMUUN.
Dikatakan (kepadanya): “Masuklah kamu kedalam syurga.” Dia berkata: “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui.
  1. BIMAA GHAFARALII RABBII WAJA ‘A-LANII MINAL MUKRAMIIN.
Apa yang menyebabkan keampunan bagiku oleh Tuhanku dan menjadikan aku termasuk di kalangan orang-orang yang di muliakan.
  1. WAMAAA ANN ZALNAA ‘ALAA QAUMIHII MIMBA’ DIHII MINN JUNDIMM MINAS-SAMAA-I WAMAA KUN-NAA MUNNZILIIN.
Dan kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukan (tentera) pun di langit dan tidak layak bagi kami menurunkannya.
  1. INN KAANAT ILLAA SAIHATAU WAAHIDATANN FA-IZAAHUM KHAA-MIDUUN.
Tidak ada (seksaan) ke atas mereka selain daripada teriakan yang sekali sahaja, maka tiba-tiba mereka semuanya mati.
  1. YAA HASRATAN ‘ALAL ‘IBAADI MAAYA’’ TIIHIM MIR-RASUULIN IL-LAA KAANU BIHII YASTAH-ZI UUN.
Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba (yang mendustakan rasul) itu, tiada datang kepada mereka seorang rasul pun melainkan mereka selalu memperolok-olokannya.
  1. ALAM YARAU KAM AHLAKNAA QABLAHUM MINALQURUUNI AN-NA-HUM ILAIHIM LAA YARJI ‘UUN.
Tidakkah mereka mengetahui berapa banyak yang telah kami binasakan mereka, (iaitu) umat-umat sebelum mereka, bahawasanya orang-orang (yang telah kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka.
  1. WA-INN KUL-LUL-LAMM-MAA JAMII ‘UL LADAINAA MUH-DHARUUN.
Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan, kepada kami (mereka) dihadirkan.
  1. WA AA-YATUL LAHUMUL AR-DHUL MAI-TATU AHYAI-NAAHAA WA-AKH-RAJNAA MINHAA HABBANN FAMINHU YA” KULUUN.
Dan suatu tanda (kekuasaan ALLAH s.w.t yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati.Kami hidupkan (bumi itu) dan kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan.
  1. WAJA-‘ALNAA FIIHAA JAN-NAATIM MIN-NAKHII LIW-WA A’-NAABIW WAFAJ-JARNAA FIIHAAA MINAL ‘U-YUUN.
Dan kami jadikan padanya kebun-kebun (terdiri) daripada kurma dan anggur dan kami pancarkan padanya beberapa mata air.
  1. LIYA” KULUU MIN TSAMARIHII WAMAA ‘AMILAT-HU AIDIIHIIM AFALAA YASY-KURUUN.
Supaya mereka dapat makan buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?
  1. SUBHAANAL LAZII KHALAQAL AZ-WAAJA KULLAHAA MIMMAA TUMM-BITUL AR-DHU WAMIN AMFUSIHIM WA MIM-MAA LAA YA’-LAMUUN.
Maha suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka mahupun dari apa yang tidak mereka ketahui.
  1. WA AA-YATUL LAHUMUL LAYLU NASLA-KHU MIN HUN NAHAARA FA-IZAA HUM MUZH LIMUUN.
Dan suatu tanda (kekuasaan ALLAH s.w.t yang besar) bagi mereka adalah malam. Kami tanggalkan daripada (malam itu) siang, maka dengan serta-merta mereka berada dalam kegelapan.
  1. WASY SYAMSU TAJRII LIMUS TAQARRIL LAHAA ZAALIKA TAQDIIRUL ‘AZII-ZIL ‘ALIIM.
Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang maha perkasa lagi maha mengetahui.
  1. WAL QAMARA QAD DARNAAHU MANAA-ZILA HATTAA ‘AA-DAKAL ‘URJUUNIL QADIIM.
Dan telah kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah ia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah ia sebagai bentuk tandan yang kuat.
  1. LASY-SYAMSU YAMM-BAGHII LAHAA AN TUDRIKAL QAMARA WALAL-LAY-LU SAABIQUN NAHAARI WAKUL-LUUN FII FALAKIY YASHBAHUUN.
Tidaklah mungkin bagi matahari itu mudah mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.
  1. WA AA-YATUL LAHUM AN-NAA HAMALNAA ZUR-RIY-YATAHUM FIL FULKIL MASY-HUUN.
Dan suatu tanda (kebesaran ALLAH s.w.t yang besar) bagi mereka adalah bahawa kami angkat keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan.
  1. WA KHALAQ NAA LAHUM MIMM-MITS LIHII MAA YARKABUUN.
Dan kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kenderai seperti bahtera itu.
  1. WA INN-NASYA” NUGH-RIQ-HUM FALAA SARII-KHA LAHUM WALAAHUM YUNN-QAZUUN.
Dan jika kami menghendaki, nescaya kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan.
  1. IL-LAA RAHMATAM MIN-NAA WAMATAA ‘AN I-LAA HIIN.
Melainkan (kami selamatkan mereka) kerana rahmat (yang besar) dari kami dan untuk memberi kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika (ajal)
  1. WA IZAA QII-LA LAHUMUT TAQUU MAA-BAYNA AY-DIIKUM WAMAA KHAL-FAKUM LA ‘AL-LAKUM TURHAMUUN.
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “takutlah kamu (akan seksa) yang di hadapanmu (iaitu sengsara di dunia) dan seksa yang akan datang (azab akhirat) supaya kamu mendapat rahmat,” (tetapi nescaya mereka berpaling)
  1. WAMAA TA” TIIHIM MIN AA-YATIM MIN AA-YAATI RABBIHIM IL-LAA KAANUU ‘ANHAA MU’-RIDHIIN.
Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda (dari tanda-tanda kekuasaan) tuhan mereka, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya.
  1. WA IZAA QILLA LAHUM ANN-FIQUU MIMMAA RAZAQA KUMUL-LAA HU QAALAL LAZIINA KAFARUU LIL-LAZII NA-AA MANUUU ANUT-‘IMU MALLAU YA-SYAAA-UL LAA-HU AT-‘AMAHUUU IN ANNTUM IL-LAA FII DHALAALIMM MUBIN.
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “nafkahkanlah sebahagian dari rezeki yang di berikan ALLAH s.w.t kepadamu” maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman “Apakah kami akan memberi makan (orang yang) jika (ALLAH s.w.t) menghendaki tentulah ALLAH s.w.t akan memberinya makan, sesungguhnya tiadalah kamu melainkan kesesatan yang nyata.”
  1. WAYAQUU-LUUNA MATAA HAAZAL WA’DU INN-KUNNTUM SAADIQIIN.
Dan mereka berkata: “Bilakah (terjadinya) janji ini (hari berbangkit) jika kamu adalah orang-orang yang benar?”
  1. MAA YANN ZHURUUNA ILLAA SAIHATAW WAAHIDATANN TA” KHUZUHUM WAHUM YA-KHIS-SIMUUN.
Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakkan sahaja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar.
  1. FALAA YASTATII-‘UUNA TAW-SIYATAW WALAA ILLAAA AH-LIHIM YARJI-‘UUN.
Lalu mereka tidak kuasa membuat satu wasiat pun tidak (pula) dapat kembali kepada keluarganya.
  1. WANUFI-KHA FIS-SUURI FA-IZAA HUM MINAL AJ-DAA-TSII-LAA RABBIHIM YANN-SILUUN.
Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar daripada kubur mereka (menuju) kepada tuhan mereka dengan segera.
  1. QAALUU YAA WAYLANAA MAMM-BA-‘A-TSANAA MIM-MARQADINAA HAAZA MAA WA-‘ADAR RAHMAANU WASADAQAL MURSALUUN.
Mereka berkata : “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang di janjikan (tuhan) yang maha pemurah dan benarlah rasul-rasul (NYA)
  1. INN KAANAT ILLAA SAIHATAW WAAHIDATANN FA-I-ZAA HUM JAMI ‘UL LADAI-NAA MUH-DHARUUN.
Sesungguhnya tidaklah (teriakkan itu) melainkan hanya sekali teriakan sahaja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan, dihadirkan kepada  sisi kami.
  1. FALYAW MA LAA TUZH-LAMU NAFSUN SYAI-AW WALAA TUJZAU-NA IL-LAA MAA KUNN-TUM TA’ MALUUN.
Maka pada hari itu tidaklah seseorang akan dirugikan (dizalimi) sedikit pun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.
  1. INN-NA AS-HAABAL JAN-NATIL YAWMA FI SYU-GHULINN FAA KIHUUN.
Sesungguhnya penghuni syurga pada hari itu  dalam (syurga) bersenang-senang dalam kesibukan (mereka).
  1. HUM WA-AZ WAAJUHUM FII ZHILAALIN ‘ALAL A-RAAA IKI MUT-TAKI-UUN.
Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas sofa-sofa.
  1. LAHUM FIIHAA FAAKIHATUW WALA HUM-MAA YADDA-‘UUN.
(Di syurga itu) mereka memperoleh buah-buahan dan apa yang mereka inginkan akan di perolehi.
  1. SALAAMUNN QAULAMM-MIR RAB-BIR RAHIIM.
(Kepada mereka dikatakan): “Salam” sebagai ucapan selamat daripada tuhan yang maha penyayang.
  1. WAMTAAZUL YAUMA AY-YUHAL MUJRIMUUN.
Dan (dikatakan kepada orang kafir): “Berpisah kamu (dari orang mukmin) pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat.”
  1. ALAM A’-AHAD I-LAYKUM YAABANII AA-DAMA AL-LAA TA’-BUDUSY-SYAITAANA IN-NAHUU LAKUM ‘A-DUW WUMM-MUBIIN.
Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai bani adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya (syaitan itu) bagi kamu adalah musuh yang nyata.
  1. WA A-NI’ BUDUUNII HAZAA SIRAATUM MUSTAQIIM.
Dan hendaklah kamu menyembah aku.Inilah jalan yang lurus.
  1. WALAQAD A-DHALLA MINN-KUM JIBILLANN KA-TSIIRAN AFALAM TAKUU-NUU TA’QILUUN.
Dan sesungguhnya (syaitan itu) telah menyesatkan sebahagian besar di antara kamu.Maka apakah kamu tidak memikirkan?
  1. HAAZIHII JAHAN-NAMUL-LATII KUNNTUM TUU ‘ADUUN.
Inilah (neraka) Jahannam yang dahulu kamu diancam (dengannya)
  1. IS-LAWHAL YAWMA BIMAA KUNNTUM TAKFURRUN.
Masuklah ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya.
  1. AL-YAW MA-NAKH-TIMU ‘A-LAAA AFWAA HIHIM WATUKALLIMUNAAA AY-DIIHIIM WATASY-HADU AR-JULUHUM BIMAA KAANUU YAKSIBUUN.
Pada hari ini kami metrikan (tutup) ke atas mulut mereka; dan berkatalah kepada kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.
  1. WALAU NASYAAA-U LATAMASNAA ‘A-LAAA A’-YUNIHIM FAS-TABAQUS SIRAATA FA-AN-NAA YUBSIRUUN.
Dan jikalau kami menghendaki pastilah kami hapuskan penglihatan atas mata mereka; lalu mereka berlumba-lumba (mencari) jalan.Maka betapakah mereka dapat melihat (NYA)
  1. WALAU NASYAAA-U LAMASAKH-NAAHUM ‘ALAA MAKAANATIHIM FAMAS TATAA-‘UU MU-DHIY-YAW WALAA YARJI-‘UUN.
Dan jikalau kami menghendaki pastilah kami ubah mereka dari tempat mereka berada; maka mereka tidak sanggup lagi berjalan (pergi) dan tidak (pula sanggup) kembali.
  1. WAMANN NU-‘AM-MIRHU NUNAK-KISHU FIL KHALQI AFALAA YA’-QILUUN.
Dan sesiapa yang kami panjangkan umurnya, nescaya kami kembalikan dia kepada kejadia (NYA). Maka apakah mereka tidak memikirkan?
  1. WAMAA ‘AL-LAMNAA HUSY-SYI’-RAA WAMAA YAMM-BA-GHII LAHUU INHUWA ILLAA ZIKRUW WAQUR-AA-NUMM MUBIIN.
Dan kami tidak mengajarkan syair kepadanya (MUHAMMAD s.a.w) dan (bersyair itu) tidaklah layak baginya. Sesungguhnya tidak (AL-QURAN itu) selain dan peringatan (pelajaran), dan AL-QURAN (kitab) yang memberi (penerangan) yang jelas.
  1. LIYUNN-ZIRA MANN KAANA HAY-YAW WAYA-HIQQAL QAULU ‘ALAL KAAFIRIIN.
Supaya dia (MUHAMMAD s.a.w) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir.
  1. AWALAM YARAW ANN-NAA KHALAQNAA LAHUM MIMMAA ‘A-MILAT AI-DIINAAA AN-‘AA-MANN FAHUM LAHAA MAA-LIKUUN.
Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya kami telah menciptakan untuk mereka dengan tangan (kekuasaan) kami binatang ternak, lalu mereka menguasainya?
  1. WAZALLAL NAAHAA LAHUM FAMINHAA RAKUU-BUHUM WAMINHAA YA” KULUUN.
Dan kami tundukkan (binatang-binatang itu) untuk mereka, maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan.
  1. WALAHUM FIIHAA MANAA-FI-‘U WAMA-SYAARIBU AFALAA YASY-KURUUN.
Dan mereka memperoleh padanya manfaat dan minuman. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?
  1. WATTA-KHAZUU MIN DUUNIL-LAAHI AA-LIHATAL LA-‘AL-LAHUM YUNN-SARUUN.
Mereka mengambil selain daripada ALLAH s.w.t sembahan-sembahan, agar mereka mendapat pertolongan (darinya)
  1. LAAYASTATII-‘UUNA NAS-RAHUM WAHUM LAHUM JUNDUM-MUH-DHARUUN.
Sembahan-sembahan itu tiada kuasa menolong mereka, padahal berhala-berhala itu menjadi tentera yang dihadirkan (untuk menjaga mereka)
  1. FALAA YAH-ZUNN-KA QAULUHUM. IN-NAA NA’-LAMU MAA YUSIR-RUU NA WAMAA YU’-LINUUN.
Maka janganlah ucapan mereka menyedihkan kamu.Bahawa sesungguhnya kami mengetahui apa yang mereka rahsiakan dan apa yang mereka nyatakan.
  1. AWALAM YARAL INN-SAANU AN-NAA KHALAQNAA HU MIN NUTFATIN FA-I-ZAA HUWA KHASII-MUM-MUBIIN.
Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahawa kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penentang yang nyata.
  1. WA-DHARABA LANAA MA-TSALAW WANASIYA KHALQA-HUU QAALA MAY-YUHYIL ‘I-ZHAA-MA WAHIYA RAMIIM.
Dan dia membuat perumpamaan bagi kami, dan dia lupa kepada kejadiannya; dia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?”
  1. QUL YUHYII HAL-LAZIII ANN-SYA-A-HAAA AW-WALA MARRA-TIW WAHUWA BIKULLI KHALQIN ‘A-LIIM.
Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh tuhan yang menciptakannya pada awalnya.Dan Dia maha mengetahui tentang segala makhluk.
  1. AL-LAZII JA-‘A-LA LAKUM MINASY SYAJARIL AKH-DHARI NAARAN FA I-ZAAA ANN-TUM MINHU TUU-QIDUUN.
Iaitu tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu.”
  1. AWALAY SALLA-ZI KHALAQAS-SAMAA WAATI WAL AR-DHA BI QAA-DIRIN  ‘A-LAA AY-YAKH-LUQA MITS-LAHUM BALAA WAHUWAL KHAL-LAAQUL ‘A-LIIM.
Dan tidakkah tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Bahkan (benar dia berkuasa) dan dialah maha pencipta lagi maha mengetahui.
  1. INN-NAMAAA AMRUHUUU I-ZAAA A-RAADA SYAI-AN AY-YAQUULA LAHUU KUNN FAYAKUUN.
Sesungguhnya keadaan-NYA apabila DIA menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya : “JADILAH !” maka terjadilah ia.
  1. FASUB-HAA NAL LAZII BIYADIHII MALAKUU-TU KULLI SYAI-INW-WA I-LAY-HI TURJA ‘UUN.
Maka maha suci (ALLAH s.w.t) yang di tangan-NYA kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-NYAlah kamu akan dikembalikan.